Istilah “galau” menjadi sangat populer di kalangan masyarakat. Tidak hanya anak kecil, remaja, bahkan para orang tua pun mengalami yang namanya galau. Namun apa sebenarnya yang dimaksud dengan galau. Saya coba mencari arti “galau” di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), maka saya dapati sebuah pengertian bahwa yang dimaksud dengan “galau” adalah kacau tidak karuan (pikiran). Berdasarkan pengertian tersebut, saya coba memberikan pengertian sendiri bahwa yang dimaksud dengan galau adalah perasaan atau pikiran yang resah atau gelisah.

Jika kembali kepada pedoman hidup kita, yaitu Al-quran. Sebetulnya sudah dijelaskan bahwa kita semua memang pasti galau, karena kita diciptakan oleh Allah Swt dalam kegelisahan. Hal tersebut dapat kita lihat dalam Alquran surat Al-Ma’rij ayat 19, “sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh”. Berdasarkan ayat tersebut dapat kita pahami bahwa dalam penciptaannya, manusia memiliki sifat mengeluh. Namun, yang menjadi problema kita adalah bagaimana cara agar kita bisa keluar dari sifat mengeluh tersebut. Inilah salah satu fungsi hati dan pikiran kita, yaitu untuk berpikir.

Apa sebenarnya yang menyebabkan kita menjadi galau. Pada  ayat selanjutnya dijelaskan bahwa ada dua penyebab seseorang menjadi galau. Pertama, hal yang menyebabkan seseorang mengalami kegalauan adalah ketika seseorang ditimpa musibah atau cobaan. Hal tersebut dapat dilihat pada ayat selanjutnya, yaitu ayat 20 “apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah”. Golongan orang seperti ini tidak pernah mensyukuri segala nikmat yang telah diberikan kepadanya, karena dalam hidupnya selalu dipenuhi rasa mengeluh, sehingga suatu nikmat akan selalu tidak terasa kepada mereka yang suka mengeluh. 

Sementara yang kedua, yaitu orang diberi harta kekayaan, tetapi ia kikir. Hal tersebut terdapat pada ayat selanjutnya, yaitu ayat 21 “dan apabila mendapat kebaikan (harta) ia menjadi kikir”. Orang-orang yang masuk ke dalam golongan ini beranggapan bahwa harta yang ia miliki merupakan hasil kerja kerasnya sendiri, sehingga untuk berbagi kepada sesamanya pun ia tidak mau bahkan untuk berzakat pun tidak. Padahal pada dasarnya, apa yang kita dapatkan tidak pernah lepas dari perantara orang lain. Hal yang paling sederhana dapat kita lihat pada pedagang. Seorang pedagang tidak akan laku jika tidak ada orang yang membeli dagangannya. Oleh itu, untuk apa kita bersikap kikir kepada orang lain.

Berdasarkan penjelasan di atas, bagaimana cara kita mengatasi sifat galau. Pada ayat 22 dan 23, Allah Swt memberikan petunjuk kepada kita yang memiliki sifat mengeluh  “kecuali orang-orang yang melaksanakan shalat. Mereka yang tetap setia melaksanakan shalatnya”. Pemahaman yang keliru adalah semakin berkembangnya ilmu teknologi, situs-situs jejaring sosial merajai dunia maya membuat orang-orang mengungkapkan keluh kesahnya di media sosial. Padahal agama sangat melarang kepada kita untuk bersikap seperti itu. Secara jelas Allah Swt sudah memberikan petunjuk, jika kita mengalami perasaan resah ataupun gelisah, maka shalat adalah cara yang paling mujarab untuk mengatasi masalah tersebut. Adukan semua yang menjadi keresahan kita kepada yang menciptakan kita. Selanjutnya  lakukan shalat secara continue serta tepat waktu. Semoga kita selalu menjadi manusia yang selalu berpikir. (Fahrudin Mualim).

Oktober menjadi bulan yang memiliki momen penting dalam sejarah Indonesia. Hal ini tidak lepas dari rangkaian peristiwa bersejarah yang terjadi di Indonesia, salah satunya hHari Sumpah Pemuda yang tepat jatuh pada 28 Oktober. Pada waktu itu, muda-mudi Indonesia berikrar pada tiga poin yang berbunyi: Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia; Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia; Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.


Menanggapi isi Sumpah Pemuda ini, tak pelak banyak masyarakat maupun para ahli yang menyatakan bahwa Sumpah Pemuda menjadi tonggak kelahiran bahasa Indonesia, seperti yang tercantum pada poin ketiga. Maka untuk memperingati momen tersebut, tidak hanya sebagai peringatan Hari Sumpah Pemuda, melainkan Oktober ditetapkan sebagai bulan bahasa.


Semua sepakat dan mengakui bahwa Oktober atau tepatnya Hari Sumpah Pemuda merupakan awal kelahiran bahasa Indonesia. Akan tetapi, apakah kelahiran bahasa Indonesia hanya serta merta setelah dibacakannya isi Sumpah Pemuda yang telah disebutkan di atas. Perlu adanya pemahaman kembali yang lebih mendalam mengenai masa-masa awal kelahiran bahasa Indoensia. Hal ini tentu sebagai pembelajaran bagi rakyat Indonesia, terutama di kalangan muda betapa pentingnya kedudukan bahasa Indonesia. Terlebih, di zaman sekarang, para orang tua lebih memilih memperkenalkan bahasa asing kepada anak-anaknya. Bukan tidak mungkin, jika sekarang kelahiran bahasa Indonesia yang mulai terlupakan, beberapa tahun mendatang bahasa Indonesia menjadi bahasa yang asing di negeri sendiri. 


Mengenai kelahiran bahasa Indonesia menurut ahli bahasa Harimurti Kridalaksana dalam pengelitiannya terkait masa-masa awal bahasa Indonesia memang tidak terpisahkan dari Kebangkitan Nasional. Para perintis kemerdekaan tidak hanya memikirkan bagaimana merebut kekuasaan dari penjajah, melainkan juga bagaimana mengisi kemerdekaan dan menjadikan bangsa yang merdeka mempunyai kebudayaan yang bisa dibanggakan. Sejak awal tokoh-tokoh seperti Ki Hadjar Dewantara, Mohamad Tabrani, Soemanang, Soedarjo Tjokrosisworo, Sutan Takdir Alisjahbana, Poerbatjaraka, Sanoesi Pane, Armijn Pane, dan para perintis kemerdekaan lain sudah memikirkan dan mengungkapkan pemikirannya bagaimana bangsa ini dapat memiliki bahasa yang bukan hanya berfungsi sebagai alat pemersatu komunikasi dalam masyarakat, tetapi juga berfungsi sebagai bahasa kebudayaan yang mencerminkan kedewasaan pemakainya dalam segala aspek kehidupan berbangsa.


Jasa para perintis kemerdekaan itu dalam bidang politik sudah banyak diketahui orang, tetapi sebagai pelopor dan perintis bidang bahasa, jangankan dihargai, disebutkan saja, tidak pernah dilakukan orang di mana pun atau dalam forum bahasa manapun.


Lebih lanjut, Harimurti menjelaskan bahwa sejarah awal bahasa Indonesia dirintis oleh empat pendekar bahasa Indonesia pertama, yaitu Ki Hadjar Dewantara, M. Tabrani, Soemanang, dan Soedarjo. Rintisan merekalah yang menjadi awal sejarah bahasa kita, ketika kita meninggalkan ke-Melayuan dan berpindah ke-Indonesiaan. Perpindahan ini berlangsung secara evolusioner, sebagaimana tampak dari teks-teks yang beredar dari akhir abad ke-19 hingga tahun 1940-an. Melalui tulisan, ditegaskan ialah fakta bahwa 2 Mei tahun 1926 adalah hari kelahiran bahasa Indonesia, yakni ketika M. Tabrani menyatakan bahwa bahasa bangsa Indonesia haruslah bahasa Indonesia, bukan bahasa Melayu. Pada tahun 1928, tepatnya tanggal 28 Oktober adalah saat diterimanya bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan bangsa Indonesia melalui Sumpah Pemuda. Namun, tetap harus kita catat bahwa struktural sejarah bahasa Indonesia yang lengkap tidak dapat dilepaskan dari sejarah bahasa Melayu jauh sebelum tahun 1926. (Fahrudin Mualim).
Pada bagian awal novel Belenggu, ada beberapa sambutan yang dilontarkan oleh para sastrawan. Salah satu sastrawan yang memberikan komentarnya terhadap novel Belenggu ini adalah Sutan Takdir Alisyahbana. Ia mengatakan bahwa pada hakekatnya Armijn ialah seorang romantikus, yang suka mengembara dalam jiwanya, melompat, dengan tiada mempedulikan logika dan kausalitet kejadian. Selanjutnya STA juga mengungkapkan yang menarik dalam novel Belenggu ialah permainan perasaan pengarangnya, yang memberikan kepada buku ini suatu suasana romantika yang gelap gulita serta pesimistis oleh karena watas-watasnya sudah ditetapkan oleh berbagai-bagai belenggu yang dimana-mana hendak dikemukakan pengarangnya. Hal ini menarik untuk sama-sama kita ketahui. Bentuk romantika kegelapan seperti apa yang coba diungkapkan Armijn Pane pada tokoh Tono, Tini, dan Rohayah yang membuat mereka terbelenggu.
            Banyak yang mengatakan bahwa Belenggu adalah novel psikologi pertama di Indonesia. Hal ini tidak lepas dari kemampuan Armijn Pane menghadirkan konflik-konflik psikologi dari tiap tokohnya. Selain itu, mengenai novel Belenggu ini, terdapat dua pandangan yang berbeda antara yang setuju dan yang tidak setuju. Kalangan yang tidak setuju dengan Belenggu ini menganggap bahwa novel ini porno karena memasukkan tokoh pelacur dan tema perselingkuhan. Sedangkan, bagi kalangan yang setuju dengan novel Belenggu ini karena menurut mereka Armijn Pane berhasil mengungkap kebobrokan-kebobrokan yang terjadi, terutama di kalangan pelajar atau orang yang memiliki pendidikan tinggi.
            Romantika kegelapan yang terdapat pada tokoh Dokter Sukartono (Tono) yang pertama adalah dari profesinya sebagai seorang dokter. Padahal ia sendiri kurang menyukai profesi sebagai dokter. Sebab, sebenarnya ia lebih tertarik kepada dunia seni. Selanjutnya Tono juga terjebak oleh pernikahannya dengan Sukartini (Tini). Sebenarnya Tono lebih menginginkan istri tradisional yang bersedia menyiapkan makan dan menunggunya di rumah. Namun, hal tersebut nampaknya tidak ada pada diri Tini. Ia merupakan wanita modern yang aktif dengan kegiatan sosial, sehingga ia tidak pernah mengurusi rumah tangga.
            Romantika kegelapan yang dialami tokoh Tono juga terlihat dari perselingkuhannya dengan Rohayah (Yah), yang tidak lain adalah seorang pelacur. Ketiga hal inilah yang dimaksudkan sebagai romantika kegelapan yang dialami tokoh Tono dan membuat ia semakin terbelenggu dengan pofesinya sebagai seorang dokter, pernikahannya dengan Tini, serta perselingkuhannya dengan Yah.
            Pada tokoh Tini, romantika kegelapan yang digambarkan Armijn Pane dilihat dari masa lalu Tini dengan Hartono, yang merupakan pacarnya waktu sama-sama masih sekolah. Mereka berdua juga aktif dalam berorganisasi. Hingga akhirnya Tini dan Hartono terjebak dalam pergaulan seks bebas yang menyebabkan Tini sudah tidak perawan lagi. Inilah bentuk kebobrokan yang diungkapkan Armijn Pane kepada kaum inteletual, bahwa meskipun mereka memiliki pendidikan tinggi dan aktif dalam berorganisasi, tetapi justru mereka melakukan hal-hal yang tidak senonoh, seperti melakukan seks bebas.
            Selanjutnya romantika kegelapan yang ada pada tokoh Tini dapat dilihat dari pernikahannya dengan Tono. Pekerjaan Tono sebagai seorang dokter menyebabkan ia terlalu sibuk merawat pasien, sehingga ia tidak punya waktu untuk bersama Tini. Selain itu, pandangan patriaki tokoh Tini yang tidak terima bahwa seorang istri hanya diam di rumah, menunggu suami pulang dan menyiapkan makanan. Ketiga romantika kegelapan inilah yang membuat tokoh Tini terbelenggu, yaitu terbelenggu oleh masa lalunya yang sudah tidak perawan lagi karena melakukan seks bebas, terbelenggu oleh pernikahannya dengan Tono, serta terbelenggu oleh pandangan patriakinya sendiri.
            Begitupun pada tokoh Rohayah (Yah). Armijn Pane menggambarkan romantika kegelapan pada tokoh Yah dari kehidupannya sebagai seorang pelacur. Selain itu, dapat dilihat dari perilakunya yang selingkuh dengan Tono dengan berpura-pura menyamar sabagai Nyonya Eni. Sebenarnya Yah sudah menikah dengan laki-laki lain dan pindah ke Palembang. Namun, karena ia terbelenggu oleh kisah cintanya dengan Tono sejak masih mereka sekolah bersama. Akhirnya Yah memutuskan untuk kabur dari suaminya dan pergi menemui Tono setelah ia mengetahui keberadaan Tono ketika ia sedang mendengarkan radio. Inilah romantika kegelapan yang digambarkan dalam diri seorang Yah,  yang bestatus sebagai seseorang yang tidak perawan lagi dan terjebak oleh kisah cintanya, sehingga ia memutuskan untuk menjadi seorang pelacur.
            Tidak berhenti sampai pada penggambaran masing-masing tokoh. Kritikan Armijn Pane juga terlihat waktu Tini mengetahui Tono selingkuh dengan Yah. Ketika Tini hendak memarahi Yah, dan menghina bahwa Yah adalah seorang pelacur, Yah balik melawan dengan membongkar masa lalu Tini yang sama buruknya dengan ia, yaitu pernah melakukan seks bebas, sehingga secara tidak langsung Armijn Pane menganggap bahwa mereka yang berpendidikan tinggi, namun melakukan seks bebas tidak ada bedanya dengan pelacur.
            Ingat lagi nyonya, beberapa tahun yang lalu, nyonya masih sekolah, ingat lagi sopir yang membawa nyonya dan tuan studen Technische Hooge School?”
“Nyonya, manakah beda kita? Janganlah memaki-maki.” (h. 132)

            Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa romantika kegelapan yang dimaksud Armijn Pane dalam novel Belenggu adalah ia berhasil membongkar kebobrokan yang terjadi pada mereka yang mengaku berpendidikan tinggi, namun melakukan perilaku seks bebas yang mengakibatkan mereka terbelenggu pada kehidupannya sendiri. (Fahrudin Mualim).
Pada novel Jalan Tak Ada Ujung terdapat tiga tokoh utama, yaitu Guru Isa, Hazil, dan Fatimah. Terlalu banyak konflik yang memunculkan tokoh Guru Isa dan Hazil membuat orang terpaku pada kedua tokoh tersebut. Hal ini membuat terlalu banyak orang lebih melihat psikologi yang terdapat pada tokoh Guru Isa maupun Hazil. Akibatnya, tokoh Fatimah menjadi terlupakan. Padahal, sosok Fatimah merupakan tokoh yang sangat penting terhadap jalannya cerita yang ada pada novel ini.
            Pada awalnya Fatimah adalah seorang istri yang baik, setia serta sabar. Ia mau melayani suaminya, yaitu Guru Isa walaupun sebenarnya ia berusaha melawan pergolakan batin yang menderanya. Pergolakan batin yang hadir dari penyakit suaminya yang impoten. Sebagai seorang wanita, terlebih sebagai seorang istri, pasti Fatimah menginginkan kebahagian bukan hanya lahir namun juga batin. Inilah salah satu pergolakan batin yang selama ini ia tahan sebagai seorang wanita.
            Sebagai seorang istri dari keluarga yang serba kurang secara ekonomi, Fatimah berusaha sekuat tenaga hutang di sana-sini hanya untuk keluarganya tetap bisa makan. Sedangkan yang mendapat malu atau kena marah setiap kali ia hutang adalah ia sendiri bukan Guru Isa yang merupakan seorang kepala keluarga.
            “kalau hari ini engkau tidak dapat uang, aku tidak tahu  lagi kemana harus menghutang beras.” (h. 65)
            Seperti dikatakan sebelumnya, bahwa ada hal yang menjadi pergolakan batin Fatimah, yaitu dapat kita lihat dari tokoh Guru Isa yang mengalami penyakit impoten. Sebagai seorang istri, tentunya ia sangat mendambakan belaian seorang suami. Namun, pada kenyataannya ia tidak mendapatkan itu dari Guru Isa. Sebuah perasaan yang campur aduk dialami Fatimah antara sedih, kesal, marah, atau bahkan malu.
            “Dalam tempat tidurnya Fatimah tidak dapat tertidur kembali. Kejadian di kamar sebelah mengingatkan kembali setelah ketika perkelahian mereka, beberapa hari seteelah malam celaka, enam bulan setelah mereka kawin. Dan kemudian percobaan-percobaan yang mereka atau Guru Isa yang tidak kunjung-kunjung berhasil. Perasaan-perasaan yang timbul dalam hatinya –kecewa, kesal, marah, sedih dan malu. Malu pada dirinya sendiri dan malu pada suaminya sendiri.” (h. 61)
            Sebagai seorang perempuan, terlebih wanita yang memiliki pendidikan,  Fatimah lebih bisa menahan diri dibandingkan dengan laki-laki.  Hal itu dapat kita lihat ketika ia mendapatkan suami yang memiliki penyakit impoten. Ia tetap setia melayani suaminya. Sebab, bisa saja ia mencari kepuasan dengan laki-laki lain, namun ia tidak mau bahkan merasa jijik jika tubuhnya dipegang oleh lelaki yang tidak dikawininya.
            “... soal agama tidak merupakan faktor dalam pikiran yang menahan Fatimah mencari kepuasan di luar rumahnya, karena dia sendiri tidak sembahyang. Seperti Guru Isa juga. Tetapi sesuatu dalam perbuatan bersetubuh demikian di luar suaminya menimbulkan rasa jijik dalam diri Fatimah. Dia jijik mengingat dirinya dipegang oleh laki-laki yang tidak dikawininya.” (h. 62)
            Selanjutnya, jika kita masih melihat kedudukan Fatimah sebagai seorang istri atau orang yang berkeluarga, tentunya ia juga mengharapkan adanya seorang anak yang membawa kecerian di setiap hari-hari yang ia jalani. Tentunya dengan penyakit impoten yang diderita suaminya, hal tersebut nampaknya akan sulit terjadi.
            Bukan hanya tidak mendapat keturunan, Fatimah juga harus menanggung malu atas ketidakpunyaan seorang anak di dalam suatu keluarga. Sebab, walaupun yang mandul adalah suaminya, orang-orang akan tetap menganggap bahwa Fatimahlah yang mandul. Sebuah gejolak batin yang sangat ironi dialami seorang istri yang memiliki suami impoten atau mandul.
            Jika yang mengalami kemandulan adalah seorang Fatimah, tentunya sang suami bisa berpoligami dengan menikah lagi agar memiliki keturunan. Namun, sebagai seorang istri, apakah Fatimah bisa melakukan poliandri dengan cara menikah lagi kepada laki-laki lain agar ia bisa memiliki keturunan? Cara lain mungkin dapat dilakukan Fatimah, yaitu bercerai dengan suaminya, kemudian menikah lagi dengan laki-laki lain. Jika hal demikian terjadi, masalah yang muncul adalah status yang akan disandang oleh Fatimah jika bercerai dengan Guru Isa. Ia akan memegang status sebagai seorang janda.
            Sebagai seorang laki-laki, jika ia telah bercerai dengan istrinya dan menyandang sebagai duda, nampaknya hal tersebut akan biasa saja. Sebab ia dapat menikah lagi dengan wanita lain. Berbeda dengan wanita jika sudah menyandang status sebagai seorang janda, hal tersebut sangat berat. Sebab, sebaik apapun wanita, jika sudah menyandang status seorang janda, maka citra yang muncul dalam masyarakat pun akan buruk.

            Sebuah pergolakan batin yaang benar-benar sangat luar biasa dialami tokoh Fatimah. Berdasarkan hal tersebut dapat kita pahami betapa sulitnya berada di posisi seperti itu. Di satu sisi ia menginginkan belaian kasih sayang seorang suami. Ketika ia tidak mendapatkan hal tersebut, ia harus menahannya. Tetapi, di sisi lain jika ia berusaha seperti itu, ia tidak akan memiliki keturunan dan akan mendapat citra buruk dari masyarakat, karena dianggap sebagai istri yang tidak bisa memberikan keturunan. Sedangkan jika ia bercerai dengan suaminya, maka menyandang status sebagai seorang janda, akan dipandang buruk oleh masyarakat. (Fahrudin Mualim)


Berbicara mengenai Sutan Takdir Alisyahbana, penulis pernah  membaca di sebuah surat kabar (Republika), dimuat pernyataan salah seorang tokoh islam yang mengatakan bahwa pencarian kebenaran STA pada akhirnya sampai kepada islam. STA yang dikenal sebagai budayawan, filsuf, pendidik dan sastrawan menemukan kembali islam setelah melakukan pergulatan yang panjang. Lahir dari keluarga islam yang taat, kemudian jauh dari islam, lalu mencari agama untuk pegangannya, dan mengukuhkan islam sebagai agama yang paling logis dan paling benar.
            Pada novel Layar Terkembang, banyak para pengamat berpandangan bahwa Layar Terkembang merupakan babak baru novel Indonesia. Hal tersebut karena menurut para pengamat, bahwa Layar Terkembang sudah tidak lagi berbicara mengenai adat yang menjadi bahan sastra pada waktu itu, melainkan mengenai kedudukan wanita dalam masyarakat.
            Berkaca pada penjelasan di atas, banyak pengamat sastra menilai tokoh Tuti pada novel Layar Terkembang identik dengan pemikiran STA. Meskipun hal tersebut dibantah secara langsung dalam sebuah kabar (Suara Karya), STA sendiri mengatakan bahwa “mengidentifikasi Tuti dan Yusuf sebagai penjelmaan saya adalah kekeliruan besar”.
            Novel Layar Terkembang, melalui tokoh Tuti selain menampilkan masalah feminisme yang berjuang dalam gerakan “Puteri Sedar”, juga menyampaikan kritikannya terhadap kaum tua bahwa agama hanya untuk orang-orang yang sudah pensiun.
            “... Tiadakah senang Engkang sekarang sudah bekerja selama itu mendapat pensiun yang tetap, sehingga sesentosa-sentosanya dapat menyerahkan dirinya untuk mempelajari agama dan menurut suruhan agama?...” (h. 31)
            “Saya? Ah, bukankah tadi kata Tuan Parta bahwa agama itu pekerjaan orang yang telah pensiun? Saya pun menanti saya pensiun dahulu, baru akan sembahyang...” (h. 35)
            Dalam kutipan di atas terlihat sekali bahwa STA sangat mengkritik golongan kaum tua yang beranggapan bahwa urusan agama hanya untuk pekerjaan orang-orang yang telah pensiun. Agama hanya akan dikerjakan apabila sudah tidak ada lagi yang diharapkan dalam suatu kehidupan. Kritikan STA dalam hal agama juga terlihat dari pandangannya bahwa agama hanya akan dikerjakan jika seseorang sudah putus asa dalam menjalani hidup, barulah orang akan ingat kepada agama. Tetapi jika hidup selamanya senang-senang saja, lupa pula orang kepada agama.
            Selanjutnya juga perasaan takut akan mati yang lebih dekat kepada orang-orang yang sudah tua tak bisa dihindarkan. Maka orang-orang barulah akan menjalani syariat agama. Tidak peduli orang tersebut tahu atau tidak apa yang diucapkannya dalam beribadah, tetapi dalam perbuatan yang tidak diketahuinya itu orang-orang akan ingat agama untuk meredakan rasa takutnya akan kematian.
            Tidak hanya mengkritik kaum tua, kritikan STA mengenai agama juga ditunjukkan kaum priyayi dan pelajar.
            “bagi engkau, segala apa salahnya,” ujar Tuti. “Bagi saya mengerjakan sesuatu yang tiada berguna, terang salah. Apa yang saya kerjakan hendaknya termakan oleh akal saya. Saya tidak mengerti apa gunanya agama yang dipakai golongan terpelajar, golongan priyayi bangsa kita sekarang.” (h. 36)
            Dari kutipan di atas, terlihat bahwa kaum priyayi dan pelajar tak lepas terkena kritikan STA. Melalui tokoh Tuti, STA berusaha mengkritik pandangan masyarakat yang membedakan kedudukan golongan priyayi dengan orang kampung dalam hal agama. Melalui tokoh Tuti pula, STA mengkritik agama yang dipakai orang kampung. Hal tersebut tidak lepas dari pendangan STA yang menganggap kehormatan orang kampung merupakan kehormatan yang membabi buta, sehingga mereka sendiri tidak dapat dan tidak sanggup mendalami hakikat agama sebenarnya. Akibatnya segala urusan agama mereka serahkan kepada kiai yang mereka junjung.
            Selanjutnya kritikan STA terhadap golongan priyayi adalah bahwa STA memiliki pandangan bagi mereka agama serta upacara yang dianggap bersangkutan dengan agama tersebut, seolah-seolah dipandang sesuatu yang memalukan, yang tidak berani dibawa di tengah khalayak yang terhormat. Tetapi untuk melepaskannya sama sekali mereka tidak berani pula, sebab pada waktu kematian atau pada waktu manusia perlu perhubungan akan kekuasaan gaib yang mengatasi kekuasaannya, mereka sendiri tidak memiliki kemampuan. Sehingga mereka memiliki keragu-raguan, yaitu jika kepercayaan akan kekuasaan gaib dipakai mereka malu, namun jika dibuang mereka juga tidak memiliki keberanian. Akibatnya bagi mereka agama hanya mendapat kedudukan di belakang. Sedangkan kritikannya terhadap pelajar adalah bahwa STA memiliki pandangan terhadap kaum pelajar yang memiliki keyakinan bahwa mereka akan memegang agama jika agama tersebut sesuai dengan akal mereka.

            Berdasarkan uraian tersebut, dapatlah kita simpulkan bahwa STA berusaha mengkritik kedudukan agama terhadap golongan tua, priyayi, serta pelajar. STA mengkritik pandangan mereka yang mengatakan bahwa agama hanya untuk mereka yang sudah tua, agama merupakan sesuatu yang tidak perlu dipercayai, serta agama adalah apa yang dapat diterima oleh akal dan pikiran yang merupakan orang terpelajar. (Fahrudin Mualim)